Sunday, May 29, 2016

Curhat Profesi : yes, I'm a Vet!

Wah.

Sejujurnya saya merasa, praktek saya ini mulai ada kemajuan.
Baik dalam perlengkapan, jumlah pasien datang, dan...mental saya sendiri sebagai seorang dokter hewan praktisi hewan kecil.

Sebenarnya, pekerjaan sebagai dokter hewan praktisi hewan kecil(atau kesayangan)ini adalah satu dari pekerjaan yang awal saya lakoni seusai saya menerima titel "dokter hewan". Selebihnya saya sambi bekerja sebagai kontributor majalah hewan kesayangan, asisten dosen laboratorium patologi veteriner, jualan pet food dan dosen di salah satu univ swasta jurusan kedokteran hewan di Surabaya.
Lumayan ya? Hehe.

Oke. Skip untuk bagian tersebut dan mari saya ajak anda memahami perasaan seorang dokter hewan praktisi yang baru memulai kembali menjalankan "fitrah" sebagai seorang dokter hewan, yang bekerja untuk menolong dan mengobati hewan kesayangan.

Fyi, disini ada kebiasaan tak tertulis jika dokter hewan praktisi lebih ditujukan pada dokter hewan yang menangani hewan kesayangan atau hewan peliharaan non ekonomis semisal anjing, kucing, kelinci, dan burung, serta sesekali menangani reptil.

Setelah mendapat beberapa pasien dalam 3 bulan terakhir, hati ini masih belum begitu tabah. Ha... ha.

Terlebih kedatangan pasien terakhir dalam kondisi "emergency".
Kolaps tanpa sebab, ia saya terima dalam keadaan nafas terengah-engah, kesadaran hampir hilang dan membiru dibagian gusi-lidah.
Saya tak ragu meminta bantuan kolega yang untungnya adek kelas saya ini rumahnya tidak jauh dari rumah tempat saya praktek. Saya menjaganya semalaman, berharap nyawanya tak lepas begitu saja. Saya tidak mau menyerah sekalipun saya sendiri belum 100% yakin atas apa yang menjadi penyebab ia menjadi seperti itu.
Kurangnya data seperti hasil pemeriksaan darah, x-ray atau USG dan riwayat penyakit yang pernah ia derita sebelumnya membuat saya semakin hanya bisa berkata "Bismillah........"

Saya menyadari bahwa klinik hewan saya ini jauh dari lengkap, saya tidak bisa menyediakan pemeriksaan darah, lebih lagi sampai ke USG dan x-ray yang harus mendapat izin "amdal" dan sebagainya. Maka keesokan harinya saya putuskan untuk merujuk pasien tersebut. Segera saya hubungi pemilik agar membawa kucingnya yang sudah saya jaga semalaman hampir tanpa tidur ke rumah sakit hewan di universitas terdekat. Karena, rumah sakit pastinya memiliki peralatan yang lebih lengkap dan banyak tenaga ahli disana.
Meski pada akhirnya pasien dirujuk lagi ke klinik hewan yang ada di Surabaya karena rumah sakit pun tak memiliki beberapa alat yang dibutuhkan, pada akhirnya saya tau bahwa kucing tersebut sudah berada ditangan yang tepat.

Sudah, itu saja yang paling penting.
Bagaimanapun juga, kepentingan pasien harus didahulukan,
Saya tidak mau egois menahannya dengan memberi harapan-harapan palsu kepada pemilik pasien karena saya tau pasti bahwasanya pasien tersebut sungguh merupakan kesayangan pemilik.
Saya pernah mengalami kejadian serupa jauh sebelum ini, kucing saya sendiri lebih tepatnya. 3 hari 3 malam kucing saya tidak sadarkan diri dan syukurlah sampai saat ini, sebentar lagi kucing saya tersebut akan berusia 8 tahun.
Saya bisa saja memaksa menahan pasien tadi berbekal pengalaman saya dulu.
Tapi....saya tidak bisa melakukannya karena saya tidak akan sanggup menjawab pertanyaan pemilik mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada hewan kesayangannya.

Praktek mandiri seperti ini yang saya rasakan sungguh berat.
Biasanya, saat saya praktek dahulu, ada yang membantu saya.
Saya dipastikan selalu mempunyai asisten karena saya bekerja di klinik hewan yang mapan dan bisa dibilang, satu yang terbaik di kota tempat saya tinggal dulu.

Sekarang....semua harus saya urus sendiri, kerja saya yang biasa cepat,
Mau tidak mau harus lambat karena tidak bisa saya mengerjakan semuanya sekaligus sementara ini sebenarnya memang harus dikerjakan sekaligus.
Saya kangen bekerja dengan tim. Kangen punya atasan yang siap membantu saya jika saya sudah habis akal. Bekerja dengan tim bisa membuat denyut jantung ini lebih stabil ketimbang seperti apa yang saya alami saat saya mendapat pasien emergency kemarin. Denyut jantung saya berpacu sama keras dan cepatnya dengan pasien saya yang terengah-engah semalam suntuk. Karena itu pula saya kesulitan memejamkan mata hingga matahari terbit.

Sungguh saya iri dengan dokter gigi langganan saya, yang bisa meminta saya untuk "mbak tolong itu suctionnya dipegang begini dan jangan gerak ya.." atau
"mbak, kumur dulu dan pasang suctionnya kembali."
Kami dokter hewan tentunya tak bisa diberikan keleluasaan tersebut.
:D

Ada yang bilang "kalau dokter hewan, hewannya mati...gak masalah kan?"
Jangan salah...
Beruntung jika kami bertemu dengan klien atau owner yang baik hati dan pengertian, jika sebaliknya?
Habis sudah... seperti yang saya baca di akun media sosial kolega saya, seluruh instansinya diberitakan yang tidak sesuai fakta dan tindak medis yang dilakukan oleh kolega saya disebabkan karena owner yang tidak berkenan melihat hasil kerja kolega saya.

Tapi ya.....
Saya sadar sepenuhnya bahwa tiap-tiap pekerjaan memiliki risikonya masing-masing.
Itu seninya hidup, kan?

Semoga siapa saja yang membaca ini menjadi tau,
Kami para dokter hewan juga manusia,
Jikalau ada yang tidak berkenan dihati anda,
Mari kita bicarakan baik-baik.
Jikalau masih tidak bisa diterima,
Saya berbesar hati bila anda membawanya ke dokter hewan lain,
Karena yang paling penting adalah...
Hewan sakit tersebut segera tertolong dan pulih seperti sedia kala.

:')

PS :
I'm the one behind @dokterhewanku tweet's on twitter.
Please share your pet's healthiness story as long as I could answer it without any physical exam. For sick animal, you should and must bring them immediately to the nearest Vets because online consultation WON'T HELP.
Thank you.

Wednesday, May 11, 2016

Masih tentang Roxy..

Alhamdulillah Roxy membaik.
Sudah mulai nakal lagi...
Sudah mulai minta dikelonin terus kalau siang.
Sudah mulai susah makan karna maunya maen terus.
Sudah mulai usil ke Moist bahkan sampai Moist marah dan nabok Roxy.

That's my cats.
My friends.
Friends for life... :')

Jadi inget,
Waktu panik-paniknya karena Roxy muntah mendadak
Yang saya sesalkan.. saya tidak punya teman berdiskusi secara jernih selain dengan pak bojo.
Ya...pak bojo juga sama dengan saya,
Sama-sama nggak ngertinya. :'D
Pun sampai dengan detik ini, kami masih belum mendapat diagnosa pasti atas sakit yang waktu itu sempat diderita Roxy.

Planning beberapa hari kedepan untuk Roxy adalah...
Melakukan vaksinasi dan kastrasi beberapa hari setelahnya.
Jujur saya kuatir.
Sudah lama sekali Roxy tidak mendapatkan vaksinasi.
Melalui tulisan ini saya sedikit berharap ada bantuan doa bagi siapa saja yang sempat membaca.

Atau...
Setidaknya, saya bisa mengurangi sedikit beban pikiran mengenai kucing jantan yang sudah memasuki usia 9 tahun ini.

I always love you, Roxy... Moist...
:')

Tuesday, May 3, 2016

Busy month and a bit prayers for Roxy.

Bye, April!
It was a damn busy month.


Iya, sampai gak sempat nulis disini.

Lepas dari tanggal 5 April, kesibukan mulai terasa banyak.
Dan ternyata pada tanggal 10 April, pak bojo harus opname di RS karena demam yang tak kunjung usai. Saya cukup syok karena diagnosa awal yaitu Typhus dan DB. Sementara kucing-kucing dirumah tidak ada yang menjaga, jadi saya harus bolak-balik RS untuk mengurus beberapa hal secara bersamaan, mulai dari beberes rumah, makan-minum-mck kucing-kucing di rumah, dan menemani pak bojo di RS.

2hari kemudian giliran saya yang tumbang, badan demam luar biasa dan linu-linu sekujur badan bahkan sampai sempoyongan. Akhirnya saya memohon pada dokter agar saya jangan sampai opname juga meski saat itu saya sudah berkemas pakaian saya sendiri, jaga-jaga siapa tau saya ikutan "ngamar" juga di RS tersebut, alhamdulillah... cukup 1 kapsul racikan dokter kondisi saya lantas membaik meski lambung terganggu karna rupanya obat racikan tersebut mengiritasi lambung saya, maka saya lanjutkan pengobatan ala saya sendiri. Saya tidak melanjutkan obat racikan tersebut karna saya kuatir saya berakhir juga di RS akibat iritasi lambung seperti beberapa tahun lalu.

Setelah kondisi kesehatan mulai pulih, saya kembali beraktivitas bolak-balik RS (pak bojo dirawat 5 hari di RS, sekedar info), dan ternyata..masih ada kejutan menunggu di rumah, listrik rumah korslet separuh bagian(?). Sehingga saya terpaksa meninggalkan rumah dalam keadaan listrik menyala sebagian. Keesokan harinya pun teknisi listrik yang kabarnya bisa membantu membetulkan listrik karena beliau bekerja di PLN, tak kunjung datang.
Pada awalnya beliau berjanji datang(dan membereskan sambungan listrik) pada pagi hari... lantas mundur menjadi siang dan diralat kembali akan datang sore hari lalu handphone beliau dimatikan, betapa...tetangga saya pun murka karenanya sebab rumah tetangga yang juga mengalami korsleting listrik ini di dalamnya terdapat anak kecil yang suka bermain kabel yang sengaja dipasang dari bagian rumah yang listriknya berfungsi. Alhasil saya mencari teknisi non pegawai PLN agar segera dapat teratasi.

Disela menunggu kedatangan bapak teknisi freelance tersebut, lhaaaa kok ternyata rumah depan, rumah yang dikontrakkan pada pemuda-pemudi yang membuat saya kesal sehingga akhirnya saya tulis dibeberapa postingan blog saya ini, kedapatan sebagai pecandu obat-obat terlarang. Saya melihat beberapa orang digelandang oleh polisi Intel untuk kemudian dibawa ke kantor BNN di Jakarta. Saya juga sempat sedikit mengobrol dengan pak polisi yang sedang bertugas melakukan penangkapan tersebut. Ah....andai saja ada kamera... :p

Setelah pak bojo keluar dari RS, giliran kucing saya, Roxy, sakit.. :(
Ia muntah-muntah tidak jelas sementara ia masih terus berusaha makan.
Keesokannya saya membawanya ke tempat praktek senior saya untuk dilakukan pemeriksaan fisik lebih mendalam. Kami menggunakan alat bantu USG.
Dugaan sementara masih mengarah pada pembengkakan kelenjar prostat dan yang dikuatirkan adalah....keganasan. :'((((

Sekalipun saya juga praktek, tapi...jika kucing saya sendiri yang sakit, saya sudah tidak mampu berpikir apa-apa. Yang bisa saya lakukan hanya memberi pertolongan awal dan sisanya adalah panik lalu menangis seharian.
Sedihnya ini lebih sakit dari diselingkuhin pacar. :'(((

Apalagi saya tidak punya lagi kawan berdiskusi secara jernih.
Rata-rata sibuk meminta saya membuka kembali buku-buku lama saya.
Bukan saya tidak mau, saya sudah lakukan itu dan pikiran saya masihlah buntu.

Tuhan, kucing ini adalah makhlukMu juga, kan?
Saya ikhlas atas takdirnya.
Saya hanya ingin menolongnya agar lepas dari rasa sakit yang ia derita.
Dan ingin membuatnya hidup nyaman, sehat dan sejahtera tanpa rasa sakit ataupun sedih hingga tiba waktu yang telah Engkau tentukan.

I love you, Roxy.
Please stay strong and I'm doing my best for you and your sister.

:'(((