Saturday, January 28, 2017

The Bath Box for my daily basis.

Sejak divonis menjadi penderita FAM dan sudah operasi juga, pola pikir ini seketika berubah menjadi fobia dengan hal-hal yang bersinggungan dengan bahan kimia (berbahaya).

Terlebih perempuan yang setiap hari disibukkan dengan perawatan kulit(wajah)nya, yang sekalipun beberapa perawatan kulit sudah lulus uji Badan POM tapi hati ini masih saja ingin mencoba beralih ke perawatan kulit natural atau organik.

Bisa sih dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di dapur...
Hanya saja saya tidak ada waktu untuk membuatnya sebab, perawatan kulit dari bahan-bahan alami yang langsung diracik di dapur haruslah segera digunakan sebab jika tidak akan rusak dan malah mungkin semakin mengiritasi kulit.

Gimana kalau tidak usah perawatan kulit agar aman?


Wah, kalau ini, saya tidak akan mau.
Merawat kulit(wajah) adalah prioritas.
Kalau make-up itu hanya tambahan.

Tapi bagi yang perawatan kulit wajahnya hanya dengan air wudhu saja, ya....
Silahkan.... 😁👍😁👍

Oke,
Mari saya lanjutkan tentang perjalanan saya dalam merawat kulit wajah di dua bulan terakhir ini.
Setelah berputar-putar di forum kesayangan, Female Daily, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti semua perawatan kulit.
Brand yang saya pilih adalah The Bath Box (sekarang disingkat menjadi TBB ya..).

Why?
It's made in Indonesia.
It's natural.
Its reasonable price.
😉

Untuk produk yang hampir keseluruhannya natural, TBB ini jauh lebih murah dari produk kesayangan saya sebelumnya, TBS.
Tapi dengan kondisi keuangan yang harus saya atur agar lebih realistis lagi, TBB jauh memikat hati.

Akhirnya satu persatu produknya saya koleksi.
Belum semuanya sih..
Yang saya beli adalah produk yang memang saya perlukan untuk perawatan kulit harian.


Pertama kali belanja TBB di website, saya memilih body wash Goats Don't Lie Bourbon (yang sekarang varian Bourbon berganti nama menjadi Geranium), Scary Face Deep Pore Cleanser (scrub terfavorit!), dan I'll Be Perfect Face Oil.
Dan ternyata... saya diberikan free body wash Goats Don't Lie varian Plain dan Oat Milk Shampoo yang baunya ENAK BANGET.

Ini pendapat saya akan beberapa produk tadi


Goats Don't Lie Bourbon.

Wanginya ENAAAAK!
Saya merasa sangat beruntung sekali, pertama kali membeli, tidak pernah ada bayangan bagaimana baunya hanya bermodal asal pilih saja, begitu produknya ada di tangan saya...ternyata, baunya...hmmmmm, tipe wewangian kesukaan saya, BANGET! 😍
Ukuran 300 cc ini saya habiskan dalam waktu 2,5 bulan.
Busanya sedikit, saya tidak keberatan dan setelah dibilas tidak terasa licin.
Pun tidak membuat kulit saya menjadi kering.
Sebenarnya sejak memakai ini, saya agak jarang memakai body lotion ataupun deodoran, ntah karena cuaca mendukung atau memang efek dari produk ini.


Oat Milk Cream Shampoo.

Satu lagi produk TBB yang wanginya ENAK!
Sayangnya saya kurang cocok dengan produk ini.
Tidak cocoknya, rambut saya jadi lepek.
Bagus sih., tapi saya seperti tidak mandi kalau rambut saya nampak lepek 😆
Tapi kecenya... kulit kepala saya jadi jarang terasa gatal.
Sementara sampo-sampo saya biasanya rata-rata masih membuat kulit kepala saya gatal terutama jika saya terlalu lama memakai kerudung.


I'll Be Perfect Rebalancing Oil.

Ini adalah face oil.
Bagi saya yang sama sekali tidak ada pengalaman dengan face oil, saya agak takut wajah saya jadi berminyak setelahnya, apalagi ini dianjurkan dipakai malam hari dan dibawa tidur, saya ngeri akan timbul jerawat di keesokan hari.
Tapi ternyata...
Tidak sama sekali.
Ketakutan saya tidak terbukti.
Yang ada malah kulit saya mulai membaik teksturnya sekalipun tidak nampak 100% maksimal seperti kulit dibawah perawatan dokter kulit.
Pun baunya yang unik, malah membuat saya merasa nyaman.

Setelah merasa cocok dengan beberapa produk di atas, saya memutuskan untuk berbelanja kembali apalagi scrub Scary Face saya habis dan memang produk scrub ini harus dihabiskan dalam waktu 1 bulan jika tidak efektivitasnya akan menurun.


Sugar Face and Body Cleanser.

Scrub wajah kedua.
Warnanya hijau karena komposisinya bubuk teh hijau atau sepertinya ini betul-betul matcha powder yang kita tinggal menambahkan susu cair saja akan menjadi green tea latte 😆
Aromanya kental aroma matcha.
Tekstur gulanya masih terasa sekali, tapi tidak terasa menyakitkan juga saat digunakan.
Sejujurnya saya kurang suka dengan produk ini, kulit wajah saya terasa lebih bersih jika saya menggunakan si Scary Face karena mungkin pori wajah saya yang besar-besar sehingga membutuhkan deep pore cleanser.
Produk ini juga harus dihabiskan dalam waktu 1 bulan setelah dibuka.


Clayopatra Face Mask.

Membeli masker ini sejujurnya hanya karena tergoda dengan warna pink yang tercetak di labelnya 😅
Sebagai penggila warna pink dan aroma mawar, produk ini juga sukses membuat saya jatuh cinta. Wanginya ENAK!
Sejujurnya saya masih sulit melihat efektifitas produk ini di kulit wajah saya, tapi aroma mawarnya sungguh memberi efek tenang secara psikologis dan saya rasa jika ingin mendapat hasil maksimal, harus rajin-rajin menggunakan produk ini 2-3x seminggu dan sebaiknya produk ini memang harus segera dihabiskan karena TBB setahu saya tidak menggunakan pengawet sehingga produknya tidak tahan lama.


Abaikan The Ordinary-nya ya.... 😅
Soalnya saya agak malas memfoto satu-persatu saat 
produk-produk ini datang bersamaan


Rapeseed Face Serum.

Kenapa saya beli serum?
Karena saya malas memakai pelembab dan sudah hampir 1 tahun terakhir saya kehabisan pelembab wajah alias tidak pernah memakainya dan hanya menggunakan sunblock saja untuk perawatan wajah pagi-siang.
Awalnya saya ragu dengan serum ini.
Dan saya menggunakannya berlapis dengan The Ordinary Niacinamide.
Hasilnya... kulit saya agak bermasalah, mulai nampak beruntusan .
Akhirnya saya memutuskan tidak menggunakan dua produk ini bersamaan lagi dan hasilnya cukup memuaskan.
Kulit wajah cukup terhidrasi mengingat tipe kulit wajah saya yang kering kombinasi, dengan penggunaan serum, saya sudah tidak lagi merasakan kulit kering di pipi. Pun tidak menjadikan area wajah saya yang berminyak menjadi parah.

Honey Glow Face Cleanser.

Sabun wajah minim busa ini baunya segar dan ada rasa manisnya sebab terbuat dari madu.
Saya menggunakannya sore hari sebagai ritual membersihkan wajah setelah seharian terpapar debu serta produk perawatan wajah seperti sunblock dan bedak.
Jika dibiarkan beberapa saat, akan terasa agak semriwing hehehe... hangat-dingin begitu dan jangan terkena mata ya... akan terasa pedih.
Setelah dibasuh akan terasa sensasi wajah "ketarik" atau kaku. Beberapa orang mungkin tidak akan suka, tapi bagi saya tidak masalah karena saya akan segera menggunakan Niacinamide sebagai perawatan wajah sore hari.

Surprise, Honey! Leave in Conditioner.

Satu lagi produk yang tidak sempat saya dokumentasikan karena saya terlalu malas mengambil gambarnya. 😅
Saya sulit menilai efektivitas produk ini, tapi......
Saya SUKA sekali produk ini.
Wanginya.... ENAK! 
Aromanya mirip dengan aroma GDL Bourbon (Geranium) 😍
Saya menggunakannya usai keramas dengan kondisi rambut masih basah.
Yang jelas saya merasa ini cocok sekali sebagai parfum rambut, rambut apek karena kelamaan tertutup kerudung? 
Nggak tuh! 😋



Produk TBB sebagian dengan kemasan lama 
dan sebagian lagi dengan kemasan baru.

Scary Face Cleanser

Scrub wajah terfavorit!
Warnanya hitam pekat, tekstur kasarnya sangat menyenangkan di kulit wajah saya yang berpori besar ini.
Aromanya sekilas mirip dengan aroma face oil I'll be Perfect dan GDL Geranium, maka dari itu saya susaaaah sekali muvon dari produk ini.
Bisa dipastikan saya akan belanja TBB demi Scary Face ini. 😅
Terlebih saya merasa kulit saya lebih yakin bersihnya dengan tipe deep pore cleanser ini.
Semoga TBB terus memperhatikan kualitas produk scary face-nya sehingga saya tidak pusing lagi mencari face scrub yang sesuai.

Ocha Body Wash.

Agaknya sabun mandi satu ini tidak menggunakan bahan dasar susu kambing seperti produk Goats Don't Lie lainnya, tapi menggunakan bahan dasar teh hijau.
CMIIW ya.. karena saya masih belum sempat melihat-lihat lagi komposisinya, saya sudah terlanjur menggunakannya dengan senang, hahaha.
Aromanya tidak seharum GDL Geranium tapi busanya sedikit lebih banyak dari GDL. 
Klaimnya produk ini bisa membantu mengatasi jerawat di punggung.
Well, let's see, saya belum bisa membuktikannya karena kebetulan akhir-akhir ini kulit punggung saya bermasalah karena cuaca dingin sehingga sering gatal sampai luka dan kadang menimbulkan radang.
Jika sempat, saya akan menuliskan kembali perkembangannya mengingat saya baru menggunakannya 1 minggu.

Oh dan dipembelian ketiga ini saya mendapatkan free lip scrub! 😍


Starbite Sugar Lip Scrub.

Lip scrub adalah satu kegiatan yang membuat saya kecanduan akan perawatan kulit. Dari sana saya sadar pentingnya merawat kulit setelah beberapa tahun melewatkan perawatan kulit dikarenakan masih sibuk sekolah 😄
Lip scrub dengan bahan gula asli ini klaimnya aman jika tertelan.
Hmmmm, kalau lapar, bisa jadi camilan nih. Abis... rasanya(aroma)nya enak! Aroma buah naga dan semangka. 
Setelah menggunakan scrub ini, bibir memang langsung terasa lebih lembut.
I guess I'm in love with this sugar lip scrub!
Tastes heavenly on my lips!

That'all,
Itu semua produk TBB yang saya gunakan setiap hari.
Saya berharap terus cocok dengan produk TBB karena saya terlanjur jatuh hati.
Apalagi mereka sering memberi free product 😆😍😆😍.

Awalnya saya ragu membeli karena ongkos kirim yang mahal.
Di kota saya juga ada reseller TBB tapi agaknya tidak aktif berjualan, maka saya putuskan membeli langsung dari web.
Kelemahannya memang agak lama prosesnya.
Tapi alhamdulillah sejauh ini produk selalu datang dengan aman sentosa
Packaginya keren.
Adminnya pun baik sekalipun kadang slow respon.

Intinya saya puas sekali berbelanja di TBB dan semoga akan selalu seperti itu.

PS : opinions are mine. I bought these by myself, so trust me.. these are my honest opinions. 😄 

Note : Results may vary, depends on individual skin condition.

Monday, January 23, 2017

My thoughts on 50 shades of Grey books. Jeeeezzz...

Baru kali ini menghabiskan trilogi, naskah aseli, dalam waktu 3 minggu-an dan genrenya adalah....

Tadaaaaa....


Pop erotis.


Hahahaha.


Yes, please judge me 😂



Tapi sejujurnya saya tidak peduli apa penilaian orang karena saya sudah menghabiskan trilogi "50 shades" karangan E.L. James ini.
(Buat yang tidak mengerti itu buku tentang apa, please use your google.)

Yang menjadi keheranan saya, buku ini sama sekali tidak dicekal di Indonesia yang marak dengan unsur agama (mayoritas)?
Apa karena yang berjihad mati-matian membela agama tersebut jarang baca buku?


But please.. ini jangan dicekal lah.
😥


Bentuk propaganda apa juga yang bisa terselip di novel pop erotis ini, yang mana tokoh utama di dalamnya hampir setiap beberapa halaman akan selalu beradegan erotis.
Di buku satu saya masih bisa merasakan greget akan adegan-adegan erotis tersebut. (Coba deh baca sendiri. Kecuali kalian sering baca stensilan pasti ya biasa aja. Hahahaha!)
Masuk buku dua, speed membaca saya semakin melaju bukan karena saya tak sabar mengkhayalkan adegan erotis tersebut, sayangnya adegan erotis sudah mulai membosankan dan saya lebih ingin mengetahui jalan cerita yang akan terjadi selanjutnya.
Buku tiga, wow...halamannya nambah! Buku 1 dan 2 hanya 300-an halaman. Buku 3 ini 500-an halaman. Hmmmm....nantangin? Sepertinya saya ingin segera menyelesaikannya juga.

Ibaratnya, saat kita hauuuus sekali, diberi minum satu gelas air maka akan terasa sangaaaat menyegarkan. Bahkan tergoda untuk nambah. Namun begitu sampai ke gelas kedua, tubuh ini mulai merasakan penuh dan eneg akan tetapi sebaiknya saya tetap meminumnya hanya demi meyakinkan diri sendiri bahwa saya sudah tidak haus lagi. Ditawari gelas ketiga? Oh, maaf. I'm full. Tapi... gelas ketiga tersebut ada tambahan sirup mocca, one of my fave syrup. Okay, bring it on!

Begitu.


Saya kira jalan ceritanya cukup tenang, tidak terlalu membuat kita kaget, minim plot twist dan hopelessly romantic, living your 7th heavens!
Kalau perempuan membaca buku ini dijamin pasti ingin punya suami sekaliber Christian Grey yang PANDAI membahagiakan istrinya lahir dan batin (bagian batinnya jangan dibahas ya...saru! Hihihi)
Karena ia kaya raya sampai-sampai Firaun ingin bangkit dari kuburnya didukung tampilan fisik yang kelewat tampan bahkan hanya dengan membayangkannya saja saya langsung terkapar. 
Dijamin juga para perempuan yang membaca buku ini ingin menjadi seperti Anastasia Steele yang menikah muda, sempurna secara lahiriah, otak cemerlang dan tangguh meski seringkali nampak malu-malu.

Sayangnya, ini hanya fiksi.

Hahahaaha.


Inginnya hati ini menjabarkan jalan ceritanya yang sebenarnya cukup terangkum dalam 1,5 buku (karena 1,5 buku lebih isinya hanya tentang adegan erotis mulai dari vanilla hingga bdsm) tapi sebaiknya saya tak membocorkannya, please read it by yourself for your personal pleasure.
😋

Pada akhirnya, saya akan merindukan dua tokoh tersebut diatas.
Tokoh yang kehidupannya too good to be true.


Tuesday, January 10, 2017

Based on true events. 1

Sedang ingin menumpahkan pemikiran terdalam.
Curhat.

Tapi,
Agaknya tidak sopan jikalau terlalu terbuka.
Karena,
Ini masih sebatas dugaan saja.

Alkisah...

Seorang pekerja biasa yang sedang memulai perjalanan karirnya, sebut saja namanya Misti. (Oh no, this not gonna end up as a stories on a koran-koran lampu merah yes! 😄)

Misti beberapa tahun belakangan sedang memulai menata kehidupannya kembali. Terasa agak telat, tetapi...daripada tidak sama sekali. Begitu pikirnya sekalipun dia dicibir oleh akal sehatnya sendiri.
Sementara sudah berapa banyak kawannya yang sukses melampaui dirinya.

Baik sukses yang diraih dari jerih payah kawannya tersebut,
Atau....
Sukses yang didapat karena menikahi lelaki tajir mlintir.
The joy of being a woman! 😋

Berusaha keras untuk kembali memasuki kehidupan sosial bersama kawan lama, sesekali dua kali tiga empat kali (entah berapa lagi) dicoba. Rasa itu sudah hilang.
Pertemanan yang ada saat ini dibangun di atas pondasi "kesamaan titel".
Diam-diam mengamati percakapan antar kawan-kawan sesama titel tersebut yang umumnya terjadi lewat media sosial, Misti sadar.
Rumahnya bukan disini.

Beberapa waktu lalu Misti sempat bertukar janji dengan kawan (mungkin lebih layak disebut kolega?), janji berkunjung karena ada hal terkait pekerjaan yang perlu diselesaikan.
Koleganya berkata akan berkunjung.
Kunjungan tak kunjung ada.
Misti merasa sebaiknya ia yang berkunjung sebab ia lah yang lebih berkepentingan.
Obrolan mengalir seperti biasa. Not too warm but good talks.

Lantas Misti menemukan beberapa baris percakapan antar kawan sesama titelnya di sosial media, betapa mereka saling suka rela menawarkan diri untuk berkunjung dan saat berkunjung mereka menyempatkan diri berfoto bersama anak-anak mereka dan lalu menempelkannya untuk dapat diberikan komentar oleh kawan sesama titel yang lain.
Sedikit melakukan background check, Misti punya pemikiran buruk,
"Mungkin itu yang biasa dilakukan oleh istri-istri orang kaya, snap and chats."

Misti teringat apa yang pernah dikatakan sahabat baiknya, panggil saja Tama. Tama memiliki teori aneh. Aneh sebab menurut Misti, teori ini belum sepenuhnya teruji.
Tama berkata, sulit berkawan bila kamu tidak memiliki kedudukan, jika kamu hanya berada di posisi tengah-tengah, orang pun jengah berkawan lama-lama. Jikalau posisimu di atas, orang akan memuaskanmu dengan "jilatan-jilatannya" berharap itu akan menumpahkan keberuntunganmu pada rekening mereka.

Misti tergoda untuk mengamini ini.
Aneh, tapi hampir terasanya nyata.
Cocok dengan situasi Misti yang memang sedang tidak jelas.
Sementara Misti sudah merasa payah dengan keadaannya membangun karirnya dari awal lagi.

Akal sehat Misti kembali, teriakannya lantang dengan bantuan corong lapangan bola,
"Try not to overthink and not to judge. By doing this, is not giving you the pleasure you need moreover the money that can feed you! Shut up now and sleep!!!"

Dan agaknya saya juga ingin mengikuti apa yang diteriakkan akal sehat Misti tadi.
Tidur.

Saya lelah sekali seharian ini.

Thursday, January 5, 2017

Lunch : Soto Lamongan Oro-oro Dowo, Malang.

Soto.

Pilihan paling aman kalau sudah kebingungan dengan banyaknya opsi menu makan siang.
Buat warga Malang raya, pasti sudah kenal betul dengan kedai soto yang kabarnya termasuk salah satu kuliner legendaris di kota bunga ini.




Sepanjang ingatan saya, suasana di warung soto ini terbilang sekelas rumah makan jikalau ini dikembalikan ke masa kecil saya di tahun 80-an.
Sementara di era 2000-an, tempat seperti ini termasuk warung pinggir jalan. Mungkin sih... hehe.

Tidak cukup dimasukkan dalam kategori "instagramable", maka membuatnya jarang dikunjungi para muda-mudi. 😁




Untuk harga, ini termasuk soto mahal, tidak bisa masuk di kategori "makan soto pinggir jalan" karena satu porsi soto dibanderol 17ribu rupiah plus nasi.
Bagi yang terbiasa makan satu mangkuk soto seharga 10 ribu rupiah, jangan protes ya, hihi...

Untuk rasa, ini bukan favorit saya karena terlalu asin (kuahnya) dan kurang koya. Seingat saya soto lamongan identik dengan koya sehingga membuat kuahnya menjadi kental.

Jika saya boleh memberi penilaian..

Taste : 3.5 out of 5
Ambience : 3.5 out of 5
Service : 4 out of 5

Lokasinya yang berada di tengah kota dan kemudahan mendapatkan tempat parkir roda 4 mungkin yang membuat saya akan kesini lagi jika sudah bingung mencari tempat makan siang.
Daripada lapar... 😆

Saturday, December 24, 2016

Kedai Favorit Kala Musim Hujan dan Lapar, Sanger!


Sebenarnya sudah banyak kedai atau warung makanan yang bertemakan "aceh" atau melayu di kota Malang ini. Tapi... yang menyediakan lokasi parkir roda empat yang nyaman (tanpa kuatir diomeli pemilik lahan yang lain) ini hanya beberapa saja.
Ada satu tempat di dekat rumah, ramai juga. Hanya saja saya kurang cocok dengan rasa kopi acehnya. Terlalu encer menurut saya. 
Ntah apa memang yang benar rasa kopi aceh adalah seperti itu tapi saya hampir tidak bisa merasakan kopi tersebut, hanya tercium aroma dan terasa sedikit pahit saja.

Oke.

Fokus ke kedai mie dan kopi aceh yang satu ini saja ya, 
SANGER namanya.
Kalau saya pernah baca entah dimana, konon, "sanger" ini dibacanya "sama-sama ngerti", e-nya dibunyikan tidak seperti e pada kata "bebek".

Tapi, saya sedari dulu taunya e-nya ini dibaca seperti pada kata "bebek".

Lepas dari semua penjelasan di atas, saya sungguh menyukai rasa makanan dan kopi disini. Saya sudah beberapa kali makan dan ngopi di sana sekalipun saya sulit sekali mendapatkan sinyal XL di tempat ini. 
(Mungkin hanya gadget saya saja ya yang rewel? ;'D)

Plusnya lagi ternyata tidak sulit menemukan lokasi untuk roda empat di tempat ini. Awalnya saya selalu ragu berkunjung ke tempat ini karena rukonya terletak di dekat perempatan lampu merah yang hampir selalu padat dan sekitar rukonya juga selalu ramai.
Setelah dua kali kesana akhirnya menemukan petugas parkir yang memberitahu saya bisa parkir disebelah mana saja. 
Asik!

Beberapa menu yang sering saya pesan 😎
Kopi sanger.
Kopi susu ini : Favorit!
Ini buku menu yang lama tapi seingat saya harganya masih sama.
Sempat memesan kopi terbalik atau kopi khop meulaboh.
Pun enak!

Mie kuah.
Tingkat kepedasan bisa disesuaikan.

Nasi goreng telur.
Sayangnya acar bawangnya ini seringkali tidak ada :'D

Pengunjungnya memang rata-rata mahasiswa, tapi sepanjang kopinya enak dan memenuhi selera saya, okelah. Saya muka badak saja :p

Kedai makan ini sudah buka dari pukul 10 atau 11 saya lupa, yang jelas ini bisa menjadi lokasi alternatif untuk makan siang di kota Malang.
Terlebih cuaca akhir-akhir ini yang seringkali mendung dan hujan, sajian makanan berkuah dan berempah serta beraroma kuat seperti masakan melayu ini tentunya akan cocok sekali.
                                      
Oke kalau menurut penilaian saya

Taste : 4 out of 5
Service : 4.5 out of 5
Facility (park and wifi, etc) : 4 out of 5
Price : 4.5 out of 5
Ambience : 3.5 out of 5

Semoga berguna sebagai referensi kuliner liburan kalian ya!
Selamat berlibur!

PS : opinions are mine. I paid my own bills. Shut your negative fuss. :p
                                             

Monday, December 19, 2016

Piknik Kekinian Di Bukit Delight, Kota Malang.

Suasana perbukitan di dalam kota?

Untungnya ya masih ada di kota Malang yang mulai ijo ruko-ruko ini.

Mumpung masih dalam suasana liburan, saya ingin mengenalkan kalian pada sebuah tempat yang sedang ramai dibahas, Bukit Delight.

Sejatinya lokasi "Bukit Delight" ini tidak terletak di tengah-tengah kota banget. Lokasinya sudah agak sedikit mendekati kota Batu, wajarlah jika jalanan menanjak, berkelok-kelok, dan pemandangan sawah ladang serta hijau-hijau lainnya adalah hal yang mudah kita jumpai.

Kalau kalian bukan orang (yang paham jalanan di) Malang dan ingin mengunjungi Bukit Delight ini, sebenarnya tidak sulit juga menemukan kafe yang berlokasi di daerah Joyogrand ini. Tapi sebaiknya selalu gunakan maps kalian agar tidak nyasar dan kita jadi tampak lucu. Hahaha.

Welcome!
Kopi hitam 10 ribu (kalau tidak salah).
 
Seperti biasa, akhir-akhir ini saya senang sekali cari angin.
Maksudnya nongkrong-ngopi di tempat yang viewnya tidak membuat sakit mata, pokoknya saya lagi suka tempat yang lega dan banyak anginnya.

Eh.....

Kok saya cocok nongkrong-ngopi di Bukit Delight ini.
Yang jelas.. Harga bersahabat!
Saat itu saya datang pukul 15.30 sementara tempat ini baru beroperasi pukul 4 sore tapi herannya, sudah banyak pengunjung yang berfoto-foto sambil menunggu jam order dibuka.

Dan sebenarnya pak bojo lah yang semangat untuk mendatangi tempat ini.
:')))
Lalu...
Pesan apa disana?

Nih..
Cuman cemilan dan kopi saja karena sebelumnya kami sudah makan nasi pecel Glintung yang lumayan legendaris itu :p

Dimsum 15ribu.
Tahu bakso (sekitar) 10ribu.
Murah kan?
Tempat yang baru benar-benar dibuka pukul 4 sore ini terbilang "hits" di kalangan penikmat tongkrongan kekinian. Tidak sedikit anak sekolah, belum ganti baju sekolahnya tapi mereka sudah duduk-duduk cantik di sana sambil menikmati sore hari.

Tapiiii...
Kelemahan tempat ini 1.
Kalau hujan bagaimana nih? :'D


Liat deh, kalau hujan deres, mau berlindung dimana? Hahaha.
Tapi untungnya saat itu tidak hujan.
Ada 1 bagian tempat duduk yang aman dari hujan tapi ya...kalau sedang full house, mau ditaruh dimana para pengunjung tersebut? :D

Ga usah di rate ya?
Yang pasti tempat parkirnya luas.
Wifi... lupa ih ada apa gak. Hehehe.

Well, selamat berlibur dan berkumpul bersama keluarga..

Tuesday, December 13, 2016

Experiencing birthday at the Skyroom, Best Western OJ Malang

Ulang tahun saya memang sudah lewat lama sekali.
Post ini juga tertunda akibat saya terlalu panik dan sedih dengan sakit yang saya alami.

Berhubung sekarang saya, alhamdulillah, sudah baik-baik saja, maka saya putuskan untuk share sedikit pengalaman saya ketika sempat merayakan ulang tahun disana...uhuk! :)))
(Umur dah banyak, masih ngerayain ultah aja jeng....)

Sebenarnya saya pribadi tidak terlalu tertarik mengunjungi tempat ini.
Hanya saja rasa penasaran belum usai jikalau belum membuktikan sendiri.
Terlebih, tempat ini pastinya lebih banyak dikunjungi "anak muda", maka saya datang kesana hanya berharap, semoga makanannya enak.
Dan memang tempat makan dan nongkrong yang rooftop-rooftop begini agaknya sedang hype sekali.

Suami sayalah yang paling antusias mengajak saya untuk merayakan ulang tahun saya disini.
Ntah mengapa, biasanya ia malas mengunjungi tempat yang isinya kebanyakan para abg.
Jam 7.30 malam kami sudah tiba di lokasi untuk segera memesan makanan.

Saat itu sudah ada beberapa pengunjung dan saya cukup lega ternyata rata-rata usia pengunjung cukup beragam, tak hanya abg saja. :D
Sebenarnya juga saya cukup bingung memilih lokasi mana yang paling enak untuk duduk, mengingat lokasinya yang terletak di lantai paling atas alias roof top dari Best Western OJ Hotel ini tentunya kita akan dipastikan terpapar angin malam kota Malang yang lumayan dingin saat itu.

Kami memutuskan memilih tempat duduk agak sudut, bersebelahan dengan pintu masuk dan tempat meracik minuman sebab tempat itu yang kami rasa cukup hangat, tidak terlalu banyak angin.
Ya...maklumlah, sudah gampang masuk angin meski usia baru 33 tahun. :))

Live music bisa dipastikan menjadi salah satu "fitur" yang diandalkan oleh tempat ini.
Beberapa pengunjung datang silih berganti dan kami masih sibuk memilih menu yang kira-kira dapat cukup mengenyangkan.




Maaf jika gambar menunya tidak terlalu jelas, saya agak malas mengeditnya dan kamera gadget saya memang kurang bagus bila digunakan di tempat dengan cahaya temaram seperti Skyroom ini.

Price wise, nampak standart.
Namun...
Begitu pesanan datang, barulah dirasa cukup mahal karna porsinya sedikit, hehe... jadi, kalau mau kesana lagi sebaiknya tidak dalam keadaan perut kelaparan. Hahaha.



Kami memesan spaghetti (karena saya tidak mau ambil risiko memesan makanan aneh-aneh tapi ujung-ujungnya rasanya tidak sesuai harapan), sup kimlo (sup ini datang paling akhir sampai kami tak sadar kalo kami memesan sup hahahaha), sapi lada hitam, kentang goreng dan es teh serta tentunya kopi yang kami pesan usai memakan semua makanan di meja.
Tak lupa sebuah cake, karena saya pecinta dessert dan opera cake yang saya pilih untuk malam itu.



Nah, anggap saja ini cake ulang tahun saya :)))
Dan jangan salah, ini porsinya sungguh keciiil... :')
Tapi memang porsi makanan di tempat-tempat seperti ini rata-rata sedikit, kalau mau porsi besar...ya ke warung. Hahaha.

Kalau saya boleh menyimpulkan...

Taste : 3.5 out of 5
Price : 3 out of 5
Service : 3.5 out of 5 (nungguin cakenya lamaaaa :'D)
Facility : 3.5 out of 5
Ambience : 4 out of 5

Mungkin kalau kesini lagi nunggu ditraktir aja, hehehehe.

PS : opinions are mine coz I paid my own bill ;)