Sunday, May 29, 2016

Curhat Profesi : yes, I'm a Vet!

Wah.

Sejujurnya saya merasa, praktek saya ini mulai ada kemajuan.
Baik dalam perlengkapan, jumlah pasien datang, dan...mental saya sendiri sebagai seorang dokter hewan praktisi hewan kecil.

Sebenarnya, pekerjaan sebagai dokter hewan praktisi hewan kecil(atau kesayangan)ini adalah satu dari pekerjaan yang awal saya lakoni seusai saya menerima titel "dokter hewan". Selebihnya saya sambi bekerja sebagai kontributor majalah hewan kesayangan, asisten dosen laboratorium patologi veteriner, jualan pet food dan dosen di salah satu univ swasta jurusan kedokteran hewan di Surabaya.
Lumayan ya? Hehe.

Oke. Skip untuk bagian tersebut dan mari saya ajak anda memahami perasaan seorang dokter hewan praktisi yang baru memulai kembali menjalankan "fitrah" sebagai seorang dokter hewan, yang bekerja untuk menolong dan mengobati hewan kesayangan.

Fyi, disini ada kebiasaan tak tertulis jika dokter hewan praktisi lebih ditujukan pada dokter hewan yang menangani hewan kesayangan atau hewan peliharaan non ekonomis semisal anjing, kucing, kelinci, dan burung, serta sesekali menangani reptil.

Setelah mendapat beberapa pasien dalam 3 bulan terakhir, hati ini masih belum begitu tabah. Ha... ha.

Terlebih kedatangan pasien terakhir dalam kondisi "emergency".
Kolaps tanpa sebab, ia saya terima dalam keadaan nafas terengah-engah, kesadaran hampir hilang dan membiru dibagian gusi-lidah.
Saya tak ragu meminta bantuan kolega yang untungnya adek kelas saya ini rumahnya tidak jauh dari rumah tempat saya praktek. Saya menjaganya semalaman, berharap nyawanya tak lepas begitu saja. Saya tidak mau menyerah sekalipun saya sendiri belum 100% yakin atas apa yang menjadi penyebab ia menjadi seperti itu.
Kurangnya data seperti hasil pemeriksaan darah, x-ray atau USG dan riwayat penyakit yang pernah ia derita sebelumnya membuat saya semakin hanya bisa berkata "Bismillah........"

Saya menyadari bahwa klinik hewan saya ini jauh dari lengkap, saya tidak bisa menyediakan pemeriksaan darah, lebih lagi sampai ke USG dan x-ray yang harus mendapat izin "amdal" dan sebagainya. Maka keesokan harinya saya putuskan untuk merujuk pasien tersebut. Segera saya hubungi pemilik agar membawa kucingnya yang sudah saya jaga semalaman hampir tanpa tidur ke rumah sakit hewan di universitas terdekat. Karena, rumah sakit pastinya memiliki peralatan yang lebih lengkap dan banyak tenaga ahli disana.
Meski pada akhirnya pasien dirujuk lagi ke klinik hewan yang ada di Surabaya karena rumah sakit pun tak memiliki beberapa alat yang dibutuhkan, pada akhirnya saya tau bahwa kucing tersebut sudah berada ditangan yang tepat.

Sudah, itu saja yang paling penting.
Bagaimanapun juga, kepentingan pasien harus didahulukan,
Saya tidak mau egois menahannya dengan memberi harapan-harapan palsu kepada pemilik pasien karena saya tau pasti bahwasanya pasien tersebut sungguh merupakan kesayangan pemilik.
Saya pernah mengalami kejadian serupa jauh sebelum ini, kucing saya sendiri lebih tepatnya. 3 hari 3 malam kucing saya tidak sadarkan diri dan syukurlah sampai saat ini, sebentar lagi kucing saya tersebut akan berusia 8 tahun.
Saya bisa saja memaksa menahan pasien tadi berbekal pengalaman saya dulu.
Tapi....saya tidak bisa melakukannya karena saya tidak akan sanggup menjawab pertanyaan pemilik mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada hewan kesayangannya.

Praktek mandiri seperti ini yang saya rasakan sungguh berat.
Biasanya, saat saya praktek dahulu, ada yang membantu saya.
Saya dipastikan selalu mempunyai asisten karena saya bekerja di klinik hewan yang mapan dan bisa dibilang, satu yang terbaik di kota tempat saya tinggal dulu.

Sekarang....semua harus saya urus sendiri, kerja saya yang biasa cepat,
Mau tidak mau harus lambat karena tidak bisa saya mengerjakan semuanya sekaligus sementara ini sebenarnya memang harus dikerjakan sekaligus.
Saya kangen bekerja dengan tim. Kangen punya atasan yang siap membantu saya jika saya sudah habis akal. Bekerja dengan tim bisa membuat denyut jantung ini lebih stabil ketimbang seperti apa yang saya alami saat saya mendapat pasien emergency kemarin. Denyut jantung saya berpacu sama keras dan cepatnya dengan pasien saya yang terengah-engah semalam suntuk. Karena itu pula saya kesulitan memejamkan mata hingga matahari terbit.

Sungguh saya iri dengan dokter gigi langganan saya, yang bisa meminta saya untuk "mbak tolong itu suctionnya dipegang begini dan jangan gerak ya.." atau
"mbak, kumur dulu dan pasang suctionnya kembali."
Kami dokter hewan tentunya tak bisa diberikan keleluasaan tersebut.
:D

Ada yang bilang "kalau dokter hewan, hewannya mati...gak masalah kan?"
Jangan salah...
Beruntung jika kami bertemu dengan klien atau owner yang baik hati dan pengertian, jika sebaliknya?
Habis sudah... seperti yang saya baca di akun media sosial kolega saya, seluruh instansinya diberitakan yang tidak sesuai fakta dan tindak medis yang dilakukan oleh kolega saya disebabkan karena owner yang tidak berkenan melihat hasil kerja kolega saya.

Tapi ya.....
Saya sadar sepenuhnya bahwa tiap-tiap pekerjaan memiliki risikonya masing-masing.
Itu seninya hidup, kan?

Semoga siapa saja yang membaca ini menjadi tau,
Kami para dokter hewan juga manusia,
Jikalau ada yang tidak berkenan dihati anda,
Mari kita bicarakan baik-baik.
Jikalau masih tidak bisa diterima,
Saya berbesar hati bila anda membawanya ke dokter hewan lain,
Karena yang paling penting adalah...
Hewan sakit tersebut segera tertolong dan pulih seperti sedia kala.

:')

PS :
I'm the one behind @dokterhewanku tweet's on twitter.
Please share your pet's healthiness story as long as I could answer it without any physical exam. For sick animal, you should and must bring them immediately to the nearest Vets because online consultation WON'T HELP.
Thank you.

Wednesday, May 11, 2016

Masih tentang Roxy..

Alhamdulillah Roxy membaik.
Sudah mulai nakal lagi...
Sudah mulai minta dikelonin terus kalau siang.
Sudah mulai susah makan karna maunya maen terus.
Sudah mulai usil ke Moist bahkan sampai Moist marah dan nabok Roxy.

That's my cats.
My friends.
Friends for life... :')

Jadi inget,
Waktu panik-paniknya karena Roxy muntah mendadak
Yang saya sesalkan.. saya tidak punya teman berdiskusi secara jernih selain dengan pak bojo.
Ya...pak bojo juga sama dengan saya,
Sama-sama nggak ngertinya. :'D
Pun sampai dengan detik ini, kami masih belum mendapat diagnosa pasti atas sakit yang waktu itu sempat diderita Roxy.

Planning beberapa hari kedepan untuk Roxy adalah...
Melakukan vaksinasi dan kastrasi beberapa hari setelahnya.
Jujur saya kuatir.
Sudah lama sekali Roxy tidak mendapatkan vaksinasi.
Melalui tulisan ini saya sedikit berharap ada bantuan doa bagi siapa saja yang sempat membaca.

Atau...
Setidaknya, saya bisa mengurangi sedikit beban pikiran mengenai kucing jantan yang sudah memasuki usia 9 tahun ini.

I always love you, Roxy... Moist...
:')

Tuesday, May 3, 2016

Busy month and a bit prayers for Roxy.

Bye, April!
It was a damn busy month.


Iya, sampai gak sempat nulis disini.

Lepas dari tanggal 5 April, kesibukan mulai terasa banyak.
Dan ternyata pada tanggal 10 April, pak bojo harus opname di RS karena demam yang tak kunjung usai. Saya cukup syok karena diagnosa awal yaitu Typhus dan DB. Sementara kucing-kucing dirumah tidak ada yang menjaga, jadi saya harus bolak-balik RS untuk mengurus beberapa hal secara bersamaan, mulai dari beberes rumah, makan-minum-mck kucing-kucing di rumah, dan menemani pak bojo di RS.

2hari kemudian giliran saya yang tumbang, badan demam luar biasa dan linu-linu sekujur badan bahkan sampai sempoyongan. Akhirnya saya memohon pada dokter agar saya jangan sampai opname juga meski saat itu saya sudah berkemas pakaian saya sendiri, jaga-jaga siapa tau saya ikutan "ngamar" juga di RS tersebut, alhamdulillah... cukup 1 kapsul racikan dokter kondisi saya lantas membaik meski lambung terganggu karna rupanya obat racikan tersebut mengiritasi lambung saya, maka saya lanjutkan pengobatan ala saya sendiri. Saya tidak melanjutkan obat racikan tersebut karna saya kuatir saya berakhir juga di RS akibat iritasi lambung seperti beberapa tahun lalu.

Setelah kondisi kesehatan mulai pulih, saya kembali beraktivitas bolak-balik RS (pak bojo dirawat 5 hari di RS, sekedar info), dan ternyata..masih ada kejutan menunggu di rumah, listrik rumah korslet separuh bagian(?). Sehingga saya terpaksa meninggalkan rumah dalam keadaan listrik menyala sebagian. Keesokan harinya pun teknisi listrik yang kabarnya bisa membantu membetulkan listrik karena beliau bekerja di PLN, tak kunjung datang.
Pada awalnya beliau berjanji datang(dan membereskan sambungan listrik) pada pagi hari... lantas mundur menjadi siang dan diralat kembali akan datang sore hari lalu handphone beliau dimatikan, betapa...tetangga saya pun murka karenanya sebab rumah tetangga yang juga mengalami korsleting listrik ini di dalamnya terdapat anak kecil yang suka bermain kabel yang sengaja dipasang dari bagian rumah yang listriknya berfungsi. Alhasil saya mencari teknisi non pegawai PLN agar segera dapat teratasi.

Disela menunggu kedatangan bapak teknisi freelance tersebut, lhaaaa kok ternyata rumah depan, rumah yang dikontrakkan pada pemuda-pemudi yang membuat saya kesal sehingga akhirnya saya tulis dibeberapa postingan blog saya ini, kedapatan sebagai pecandu obat-obat terlarang. Saya melihat beberapa orang digelandang oleh polisi Intel untuk kemudian dibawa ke kantor BNN di Jakarta. Saya juga sempat sedikit mengobrol dengan pak polisi yang sedang bertugas melakukan penangkapan tersebut. Ah....andai saja ada kamera... :p

Setelah pak bojo keluar dari RS, giliran kucing saya, Roxy, sakit.. :(
Ia muntah-muntah tidak jelas sementara ia masih terus berusaha makan.
Keesokannya saya membawanya ke tempat praktek senior saya untuk dilakukan pemeriksaan fisik lebih mendalam. Kami menggunakan alat bantu USG.
Dugaan sementara masih mengarah pada pembengkakan kelenjar prostat dan yang dikuatirkan adalah....keganasan. :'((((

Sekalipun saya juga praktek, tapi...jika kucing saya sendiri yang sakit, saya sudah tidak mampu berpikir apa-apa. Yang bisa saya lakukan hanya memberi pertolongan awal dan sisanya adalah panik lalu menangis seharian.
Sedihnya ini lebih sakit dari diselingkuhin pacar. :'(((

Apalagi saya tidak punya lagi kawan berdiskusi secara jernih.
Rata-rata sibuk meminta saya membuka kembali buku-buku lama saya.
Bukan saya tidak mau, saya sudah lakukan itu dan pikiran saya masihlah buntu.

Tuhan, kucing ini adalah makhlukMu juga, kan?
Saya ikhlas atas takdirnya.
Saya hanya ingin menolongnya agar lepas dari rasa sakit yang ia derita.
Dan ingin membuatnya hidup nyaman, sehat dan sejahtera tanpa rasa sakit ataupun sedih hingga tiba waktu yang telah Engkau tentukan.

I love you, Roxy.
Please stay strong and I'm doing my best for you and your sister.

:'(((

Tuesday, April 5, 2016

Ber-Tetangga. Part 2(Habis!)

Fiuh...

Setelah berjibaku dengan flu dan batuk akibat tragedi mobil tetangga yang parkir sekenanya(ya.. cerita selengkapnya ada di part-1, he heeee), akhirnya saya bisa menuliskan kelanjutan kisah kehidupan ber-tetangga saya, lagi.

Saya sengaja tidak membeli antibiotik karna tak ingin memperkaya perusahaan obat . Nah, gimana ya... antibiotik (yang cocok dengan) saya per-butirnya seharga 15 ribu rupiah, nah...habis berapa tuh untuk 1minggu? Big no...no...no! Maka, jadilah saya bersusah payah untuk sembuh tanpa bantuan antibiotik melainkan dengan banyak makan, istirahat, minum obat flu andalan sejak kecil, minum vitamin C dosis tinggi dan hampir setiap saat menghisap permen pelega tenggorokan. Setelah 7 hari barulah nampak hasil yang lumayan oke....sehingga saya bisa menghadap bapak pengurus RT untuk menceritakan tragedi parkir mobil tersebut.

Hasilnya?

Ternyata hanya ada 1 KK yang diserahkan kepada RT. Lumayanlah, pokoknya ada KK nya.
Perkara ada 3 keluarga (yang katanya suami istri juga) di dalam sana, saya pasrah saja. Saya tidak merasa perlu menjadi polisi moral dalam hal ini. Sepanjang mereka tidak parkir kendaraan sembarangan lagi dan orang-orang yang berlalu-lalang dalam rumah tersebut bukanlah orang-orang jahat, saya sudah cukup.
Plus... saya juga tidak perlu "disapa" atau "dipamitin" tiap kali bertatap muka. Saya anggap saya ini sedang tinggal di Eropa sekalipun waktu itu pak pengurus RT bertanya "sama tetangga nyapa, ndak?"

Pak pengurus RT berjanji akan mengunjungi rumah tersebut, karena ternyata beliau juga terganggu dengan suara knalpot moge yang berisik layaknya sedang persiapan menuju arena balapan, itu.
Tapi ya...sudahlah.
Asal parkir mobilnya sudah sesuai dengan yang saya maksud, saya rasa tidak perlu tindak lanjut dari pengurus RT.
Pun saya juga tidak berharap pengurus RT repot-repot mendatangi rumah tersebut.

Tamat.

Wednesday, March 23, 2016

Ber-Tetangga. Part 1?

Kenapa judulnya saya beri tanda tanya? *tanda tanya-ception*
Karena saya mungkin akan menuliskan kelanjutannya setelah esok hari saya menghadap bapak pengurus RT.

Begini ceritanya..

Sebagai seorang yang sudah berkeluarga (dengan atau tanpa anak), pasti akan memasuki fase...tinggal di rumahnya sendiri. Ya. Sendiri disini artinya tidak lagi ikut dengan orang tua(atau mertua).
Kebetulan saya ada rejeki untuk bisa tinggal di rumah kami sendiri.
Mandiri.
Kalau laper...gak minta dimasakin ibuk atau sekedar nebeng beras 5kilo.

Sudah hampir 5 tahun saya menjadi warga di komplek perumahan saya ini. Banyak tamu, saudara, atau kolega yang bilang "enak ya rumahnya..dekat dari mana-mana tapi masih banyak 'ijo-ijonya'" pasti akan buru-buru saya jawab "alhamdulillah..tapi rumah saya ini kecil lho, tidak sebesar rumah kalian."

Tapi dari situ anda perlu tau, masih banyak orang yang bertanya..."ada gak sih rumah disini yang kosong?" Dan pastinya buru-buru saya jawab lagi dengan "maap, udah penuh semua..kalau mau di perumahan dekat jalan raya sana." Dan pasti semua langsung enggan melanjutkan pertanyaan tentang rumah kosong yang dijual. Demikian intermezzonya, mari lanjutkan ke pokok permasalahan kenapa saya buat judul tulisan ini, seperti diatas.

Tetangga.
Yang seharusnya menjadi saudara terdekat karena kalau ada apa-apa, paling cepat tentunya kita akan meminta tolong pada tetangga kita, kan?
Nyatanya?
Nope.

Hari ini saya mau antar dagangan saya, telur mentah, seperti yang biasa saya lakukan setiap hari. Pak bojo kebetulan ada acara kantor pagi-pagi sehingga mobil beliau tidak bisa saya pakai, sehingga saya harus memakai kendaraan saya sendiri yang seringnya hanya terdiam di garasi karena saya malas memakainya akibat....... (salah satu diantaranya)tetangga depan saya ini jika memarkir mobilnya, tidak pas. Saya selalu kesulitan mengeluarkan mobil saya sendiri. Mereka memang orang baru, penyewa lebih tepatnya. Pemilik asli rumah tersebut? Entah saya tidak tahu kemana rimbanya. Karena sebelumnya hanya dihuni oleh penyewa juga. Tapi penyewa baru ini sangat "ajaib".

Ajaib kenapa?

Akibat insiden parkir yang tidak tepat, saya terpaksa harus mendatangi rumah tersebut. Ntah berapa lama saya berusaha membunyikan gembok di pagarnya agar penghuni tau jika ada yang sedang berkunjung sambil saya berteriak permisi, hasilnya?
Nihil.
Tidak ada jawaban.
Dan semua orang tau, penghuninya masih komplit di dalam sana.
Tidur...pulas.
Bahkan satpam kavling pun berkata "susah mbak, mereka baru bangun siang. Jam 12 atau jam 1siang"

Astaga....
Saya kan harus mengantar telur-telur ini sekarang....
Masa iya harus menunggu mereka bangun?
Suami saya pun emosi dan menuliskan sesuatu disebuah kertas.
Selembar peringatan yang isinya kurang lebih agar supaya parkirnya lebih diperhatikan.

Suami saya akhirnya berangkat kerja dan daripada saya dimarahi pelanggan, akhirnya saya memilih...naek angkot untuk mengantarkan telur-telur tersebut.

Bisa dipastikan keuntungan penjualan telur hari ini adalah minus karena keuntungannya sudah terpakai untuk saya naik angkot dan becak(motor) karena saya harus membawa kotak telur kosong dari toko langganan.
Pffffftttt.

Rencana saya.
Besok saya akan mendatangi pengurus RT.
Menanyakan apakah benar, penyewa tersebut sudah menyerahkan seluruh KK yang ada di dalam rumah tersebut?
Menurut laporan...ada 3 KK didalam satu rumah dan mereka bukan saudara, mereka semua berteman.
Lucu kan kalau bilangnya berkeluarga tidak bisa menunjukkan KK?
Sejauh ini, hanya itu yang bisa saya pikirkan karena saya sedang dibawah pengaruh obat flu sehingga saya tak sanggup harus menuliskan apa lagi terkait hal ini.

Semoga besok ada titik terangnya.

Wednesday, March 16, 2016

Piknik tipis-tipis... Part 3 (last part) 》Selecta and Gunung Banyak, kota Batu.

Have you ever see a paragliding?
Me? Never!
Itu kenapa saya semangat sekali dengan agenda piknik terakhir kami hari itu.

Setelah sarapan(yang mana aktivitas ini mulai saya tinggalkan sejak 4 tahun lalu) kami bergegas menuju ke tempat wisata Selecta.

Sedikit cerita.
Selecta ini merupakan lokasi wisata layak kunjung bagi kami warga Jawa Timur.
Sejak kami kecil, jika ada acara wisata bersama yang diadakan oleh sekolah, agendanya pasti ke Selecta ini dengan rute sebagai berikut, pertama-tama kami akan mengunjungi wisata pemandian Sengkaling yang terletak diperbatasan kota Malang dan Batu. Kemudian naik ke Selecta, berfoto bersama bunga-bunga yang tak boleh dilewatkan. Dan terakhir naik lagi ke Songgoriti dan sejujurnya saya lupa ada apa saja di Songgoriti tersebut.

Oke.. let's start.

Selecta. Tempat wisata bunga-bunga legendaris.
Sayangnya saat kami berkunjung, bunga-bunga tersebut sedang diperbarui sehingga pemandangan kali ini tidak se-warna-warni biasanya.

Oleh-oleh yang katanya khas kota Batu.
Semacam kerupuk dari tepung ketan dan rasanya manis.

Setelah teman saya puas berburu oleh-oleh untuk dibawa kembali ke Surabaya, kami melanjutkan perjalanan (lebih tepatnya kembali naik) ke Songgoriti. Tapi ini bukan Songgoriti tempat piknik saya semasa kecil, kali ini kami menuju Gunung Banyak. 

Ntah mengapa diberi nama Gunung Banyak, yang jelas kami bisa melihat lokasi "launching" paralayang dimulai dari tempat ini. 
Lokasi yang kami kunjungi ini berupa area terbuka yang luas dan bebas dari bangunan atau pepohonan yang tinggi sehingga ideal bagi yang akan melakukan aktivitas paralayang. 
Nope. I don't have a nerve to do paragliding. I just enjoyed the view.
Refreshing my eyes.
Dan jelasnya, banyak sekali muda mudi berkunjung disini untuk berfoto dan selfie! Including me :)))

Dibelakang kami tersebut berderet warung-warung dan ada satu tempat untuk menanyakan informasi jika ingin mencoba ber-paralayang.

Jangan tanya nama gunung yang tersembunyi di balik awan tersebut.
Saya tidak tahu.. :')

Andai punya nyali.. saya pasti mencoba ber-paralayang.
Dengar-dengar biayanya 300ribu-an sekali launching dan tandem dengan instruktur.
Oiya, berat badan tidak boleh lebih dari 80kilo agar bisa tandem ;)

Yes....selfie is a must! :p

Never avoid cameras during holiday! Never!


It's a wrap.
Satu kata : SENANG!

Perjalanan bersama orang-orang yang kita sayangi tentu memberi suntikan semangat lebih. Tentunya makin mengingatkan saya untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berbahagia dan bersenang-senang bersama kawan baik dan saya tau bahwasanya kawan baik masih ada untuk saya.
Semoga begitu adanya.

Tuesday, March 15, 2016

Wisata Gerhana Matahari Sebagian dari balkon rumahku...

Rasanya kurang afdol kalau saya tak turut berbagi euforia gerhana matahari yang sejatinya sudah kita alami di tanggal 9 Maret 2016 lalu.

Taken from : news.liputan6.com


Yang saya alami hanya GMS, alias gerhana matahari sebagian, namun sudah cukup mengobati rasa penasaran sekaligus penyesalan...kenapaaa tidak jauh-jauh hari saya rencanakan untuk benar-benar mengunjungi kota-kota yang mengalami GMT alias gerhana matahari total.

Seingat saya, pulau Jawa pernah dilalui GMT pada tahun 1983 tapi di bulan Juni. Dan saya baru lahir bulan Oktober. Tentunya seumur hidup saya belum pernah menyaksikan GMT. Mendadak, sekitar 3 malam sebelum peristiwa GMT diramalkan akan terjadi, saya heboh ingin sekali menyaksikan momen langka tersebut, alibi saya.."wong saya belom lair pas GMT lalu mosok ya ngga bole melok pengen liat GMT.."

Tapi yah.. jalur GMT kali ini tak melintas pulau Jawa. Baru melintasi Jawa kembali(di titik yang sama)bisa sekitar 350 tahun mendatang. Sayangnya saya bukan kaum highlander atau sebangsa peri. Jadi yah...mana mungkin saya bisa menyaksikannya dari halaman rumah saya 350 tahun lagi... Ha ha ha!

Saya tidak sedih.
7 Maret 2016....

Saya mulai mencari-cari info mengenai wilayah mana saja yang dilalui gerhana ini dan ternyata kawasan asia pasifik cukup bisa menikmati momen langka ini sekalipun hanya GMS alias gerhana matahari sebagian.
Kembali saya mencari info waktu perkiraan terjadinya gerhana. Baik awal mula terjadinya bayangan bulan mulai menghalangi sinar matahari ke bumi hingga bumi dapat lagi menerima sinar matahari tanpa dihalangi oleh bulan.

8 Maret 2016....

Posting kawan-kawan di linimasa facebook saya cukup membantu saya untuk menentukan pukul berapa baiknya alarm ini saya hidupkan, agar saya bangun dan tak melewatkannya begitu saja.
Saya mulai atur alarm dan atur jadwal antar telur yang biasa saya lakukan tiap pagi ke warung langganan.
Pergi tidur sesegera mungkin karna menurut perkiraan, GMS bisa dinikmati di kota Malang sekitar pukul 6.20 hingga pukul 8.20 atau lebih dengan perkiraan puncak gerhana terjadi pukul 7.20. Hmmmm... let's do this!

9 Maret 2016....

Tibalah hari yang sudah dinantikan, mungkin, oleh seluruh umat manusia di dunia.
Tapi.....
Aduh, ngantuknyaaaa.... hahahaha!
Saya memang bangun untuk solat subuh, namun saya lanjutkan tidur saya karena pikir saya "6.20 masih lama...ini masih 4.20"
Benar saja, saya terbangun pukul 6.20 demi mendengar alarm saya meraung-raung. Kenyataannya? Saya kembali tidur. 
Pikir saya "ah, ini kan masih awal gerhana...nanti sajalah. Tunggu puncaknya."
Namun pukul 7.05 mendadak saya terbangun dan terhuyung karena pusing akibat bangun tidur yang saya paksakan. :'D

Saya langsung keluar kamar dan pas sekali saya bisa melihat matahari dari jendela di atas ruang tamu saya.
Saya perhatikan dengan mata kesakitan (ya ini kebodohan saya, melihat tanpa alat bantu), saya melihat betul bahwa matahari tidak bulat penuh namun ada bayangan gelap yang menghalangi, nampak seperti bulan sabit. Tapi bukan bulan sabit muda. Saya beranikan diri(memaksa lebih tepatnya) untuk melihat beberapa detik lebih lama agar lebih yakin.
Mata saya sakit dan berkunang-kunang setelah menurunkan pandangan dari matahari yang sudah mulai terhalang sepenuhnya oleh bulan.

Saya lari ke ruang sebelah.
Buka gadget.
Streaming youtube yang banyak menawarkan live GMT.
Tapi saya sadar...buat apa lihat di gadget? 
Lebih baik saya cari info tentang puncak GMS di kota saya ini.
Scrol linimasa twitter radio info kota.
Got it!
It's..... now!
No more fucking 10 or 5 minutes!

Buru-buru lari ke balkon.
Kembali memaksakan diri melihat langsung ke arah matahari.
Kali ini saya membawa kacamata hitam saya.
Tapi....percuma.
Tetap tidak bisa dan mata saya tetap sakit.
Tapi beberapa detik dalam kesakitan itu saya yakin...
Saya telah menyaksikan GERHANA MATAHARI.....SEBAGIAN. :))))
Duh...rasanya. 
Jujur saya benar merasa sangat bersyukur.

Sejatinya ini peristiwa alam yang logis.
Hanya saja saya tetap yakin, hanya atas ijin Allah SWT. yang bisa membuat saya turut menyaksikan momen logis nan sarat mistis ini.
Di beberapa daerah tentu masih ada yang percaya jika gerhana matahari adalah peristiwa.....gampangannya ya... "matahari lagi dimakan raksasa jahat". Itu mitos yang sering saya baca ketika saya kecil.

Satu lagi yang saya rasa saya jatuh cinta dengan gerhana matahari.
Apa?
Saya merasakan redup, syahdu, tenang...sekaligus aneh.
Kenapa?
Saya mengamati lingkungan sekitar ketika puncak gerhana sedang terjadi...(karena mata saya sudah terlalu sakit akibat melihat matahari langsung)
Langit seolah menjemput senjanya kembali...tapi senja enggan datang sepenuhnya, hanya memberi sedikit sapaan sepinya saja.
Angin pun sama sekali jauh, tidak turut memberikan gerak pada daun di pepohonan yang ada.
Burung dan angsa serta ayam-ayam yang biasanya ramai di jam-jam seperti itu, seolah ikut berhenti.
Saya baca-baca di artikel online, ketika terjadi gerhana matahari banyak hewan yang merasa bingung. Saya merasa aneh karena tak dapat memecahkan misteri tersebut :'))
Langit terbagi dua...sebagian cerah. Sebagian temaram. Layaknya kegelisahan manusia.
Dingin... tapi tidak sejuk. Lain sekali.
Apakah saya sedang menerima candu?
Saya berhalusinasi atau tersugesti?
Seingat saya, saya tak pernah membaca puisi-puisi bahkan penjelasan ilmiah untuk momen sejenis. Entahlah....

Duh Gusti... maturnuwun.
Paringi rejeki kathah... mugi kulo saged nyaksekaken malih.
Amiiiin.

Lalu semua kembali seperti sedia kala.
Pun saya kembali pada aktifitas normal saya, menelpon langganan yang biasa beli telur ayam dari saya.
Ternyata mereka libur dulu belinya..
Yasudah tidak apa...
Saya lanjutkan hari itu dengan melihat siaran tunda GMT yang terjadi di beberapa kota di Indonesia.

A day worth waiting.....